Thursday, January 31, 2008

Dongeng Ritual Mandi dan Kedalaman Maksud

Oleh Dino Umahuk

Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas oleh gheta

Puisi adalah karya sastra yang bersifat imajinatif sekaligus konotatif. Dibanding bentuk karya sastra lain, bahasa puisi lebih memilki banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan karena terjadinya konsentrasi atau pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi yang sangat padat bersenyawa secara padu bagaikan gula dalam larutan kopi.

S. Effendi menyatakan bahwa dalam bahasa puisi terdapat bentuk permukaan yang berupa larik, bait dan pertalian makna larik bait. Kemudian penyair berusaha mengkonkretkan pengertian-pengertian dan konsep-konsep abstrak dengan menggunakan pengimajian, pengiasan dan peambangan. Dalam mengungkapkan pengalaman jiwanya penyair bertitik tolak pada „mood” atau „atmosfer” yang dijelmakan oleh lingkungan fisik dan psikologi dalam puisi. Dalam memilih kata-kata, diadakan perulangan bunyi yang mengakibatkan adanya kemerduan atau eufoni. Jalinan kata-kata harus mampu memadukan kemanisan bunyi dengan makna (S. Effendi 1982:xi)

**
Dalam kaitan itu, sebuah puisi berjudul Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas telah di kirim ke email saya oleh panitia KOPDAR 2 Kemudian.com. Puisi ini dikirim ke saya tanpa nama penulisnya. Mungkin ini kesengajaan dari panitia agar peresensi tidak mengetahui identitas penulis puisi. Namun karena tidak mengetahui siapa penulisnya, saya agak kesulitan untuk menerawang suasana kebatinan dan latar belakang lahirnya puisi ini. Tapi baiklah saya akan mencoba memberikan apresiasi yang mudah-mudahan tidak salah dan keliru.

Kulit lusuh dengan keringat tersimpan rapi di tiap lipatannya
Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari
Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua
Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup
Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip
Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti
Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan
Ritual mandinya belum tuntas
Kulit kaki belum lepas
Nanti malam masih dipakainya berjalan

Macul,14 Maret07
***

Mandi secara harafiah berarti upaya seseorang untuk menyegarkan badan sekaligus membersihkan badannya dari berbagai jenis kotoran. Kenapa mandi, karena dalam puisi ini, secara implisit memperlihatkan upaya seseorang untuk membersihkan dirinya dari berbagai kotoran itu kotoran yang melekat di badan dan maupun kotoran jiwanya. Lihat bait-bait berikut: Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua/ Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup/ penat disini bisa dikiaskan sebagai dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Dan kesadaran ini diperoleh setelah menyaksikan kematian /Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari/. Setelah melihat bagaimana seorang hamba tak berdaya menghadapi maut, menghadapi takdir kematian. Setelah melihat betapa tak bisa apa-apanya sebuah kerangka manusia selain pasrah pada tanah kuburan.

Dalam ajaran Agama Islam, mandi memiliki makna membersihkan diri dari hadas/najis, baik najis besar maupun najis kecil. Jika perpijak pada dua bait berikut: Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti/Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan/ maka mandi yang dimaksudkan si penyair dapat disebut sebagai upaya untuk membersihkan diri dari berbagai dosa karena usia yang semakin menua sebagaimana dikiaskan sebagai Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip.

Apa yang bisa saya simpulkan dari puisi yang coba saya hayati adalah sebentuk upaya membersihkan diri atau semacam cuci dosa. Dalam puisi ini sang penyair berupaya membersihkan disebabkan oleh dosa-dosanya di sepanjang usia sebagai makhluk yang berupaya dekat dengan Rabb, dengan Tuhan.

Memang tidak semua penyair menulis sajak untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi, dalam puisi Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas sang penyair, hemat saya, tengah berusaha merapatkan diri pada hakikat keindahan, kebenaran, dan kejernihan.

Penyair yang kata Saini KM, adalah ia yang berumah di sebuah kuil di tengah hutan. Ia juga kayu dalam pembakaran, tengah berusaha berjalan ke inti kehidupan, kepada Tuhan.

Meskipun sang penyair sadar bahwa setelah pemandian, pensucian dan pertobatan, dosa-dosanya belum habis terkikis. Ini dikiaskan kembali dalam Ritual mandinya belum tuntas/Kulit kaki belum lepas. Karena sebagai makhluk yang lemah, sebagai manusia yang doif, ia selalu dengan sangat gampang tergelincir untuk berbuat dosa. Sangat gampang untuk ditaklukkan kembali oleh nafsu dan setan.

Sang penyair juga terpaku pada ketersadaran bahwa hari esok masih harus terus iya jalani sebelum ajal menjemput, sebagaimana di sampaikan pada bait penutup. /Nanti malam masih dipakainya berjalan. Namun sayang ia tak tak memintal doa-doa sebagai bekal untuk melangkah.

Entah berjalan kemana kita sesungguhnya sama-sama tak tahu. Hanya sang penyair yang mengerti hendak kemana nasib akan dibawa. Entah menuju ke langit dengan wajah selembut bidadari atau menuju neraka dengan wajah sehitam iblis.

Wallahu a'lam bis Shawab.
Serambi Mekah, Jumat 24 Januari 2008

Di culik dari Http://perkosakata2008.blogspot.com

Thursday, January 24, 2008

Resensi Puisi 'Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas'

Perkosakata2008

Oleh Nanang Suryadi

Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas oleh gheta

Sajak ini berjudul: Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas. Dari judulnya, penulis menggiring pembaca untuk masuk ke dalam sebuah dongeng atau cerita. Sesuai dengan judulnya, sajak ini memang bercerita. Penulis menarasikan tentang suatu kejadian, yaitu tentang ritual mandi. Mengapa mandi menjadi suatu ritual? Jika ritual diterjemahkan sebagai suatu hal yang wajib dan rutin dilakukan dengan urut-urutan yang sama, mungkin memang dapat dikatakan bahwa mandi merupakan ritual bagi seseorang. Mari kita simak sajak Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas.

Kulit lusuh dengan keringat tersimpan rapi di tiap lipatannya
Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari
Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua
Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup
Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip
Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti
Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan
Ritual mandinya belum tuntas
Kulit kaki belum lepas
Nanti malam masih dipakai jalan

Macul,14 Maret07

Dalam sajak ini siapa subyeknya? Pada baris pertama, hanya muncul “kulit lusuh”. Apakah “kulit lusuh” sudah mencukupi, sepertinya tidak. Mungkin, akan lebih baik jika dimunculkan “subyek” yang memiliki “kulit lusuh” ini, di awal sajak. Karena akan menjadi ganjil ketika sang subyek alias “ Ia” muncul tiba-tiba di baris kedua dan baris ketiga. Secara teknis, susunan kalimat atau frasa masih perlu diperbaiki. Misalnya kalimat: Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari. Apa yang kurang dari kalimat ini? Mungkin pembaca dapat menunjukkannya jika melihat dengan menggunakan kadiah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Menurut saya, sajak ini dapat menjadi lebih bagus lagi, jika penulisnya mau mencoba untuk masuk ke dalam sajaknya tersebut dan membuang hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Saya sangat menghargai kemauan penulisnya untuk mencoba menciptakan frasa-frasa unik, misalnya: “keringat tersimpan rapi”, “siku hidup” Permainan bunyi juga sudah terasa, misalnya: “penat terlihat” namun masih kurang dikembangkan.

Begitulah kesan saya pada sajak ini.

Thursday, November 22, 2007

Enam Tahap Mengakrabi Puisi

[Ruang Renung # 175] Enam Tahap Mengakrabi Puisi
Tanggal: Wednesday, 14 February 2007
Topik: Esai Sastra


Oleh: Hasan Aspahani

1. Tahap Tahu Puisi. Ini tahap awam. Sebagian besar orang berada pada tahap ini. Sebagian besar orang pernah membaca satu dua bait atau satu dua puisi. Paling tidak orang bertemu puisi dalam pelajaran bahasa dan sastra di sekolah. Orang yang tahu puisi, bukan orang yang peduli pada puisi. Ia bisa hidup nyaman-nyaman saja tanpa puisi. Dia dan puisi adalah dua orang tak saling kenal yang kalau bertemu tak perlu harus menggelar perbincangan, bahkan mungkin tak perlu bersapaan.

2. Tahap Kenal Puisi. Orang yang kenal puisi mulai sering membaca - bukan meresitalkan - puisi, meskipun tidak rutin. Dia ingat beberapa nama penyair dan puisinya. Dia suka menuliskan puisi sendiri, untuk diri sendiri, atau untuk orang-orang terdekatnya saja. Puisi baginya seperti ibadah sunat, dikerjakan dapat nikmat, tidak dikerjakan tidak berkurang nikmatnya. Dia dan puisi seperti kawan yang saling sapa dan menjabat tangan kalau bertemu. Saling bertanya kabar, meskipun kadang hanya tanya berbasa-basi.

3. Tahap Perlu Puisi. Pada tahap ini seseorang mulai menganggap puisi sebagai kebutuhan. Dia rutin menulis dan membaca puisi. Dia mengoleksi buku puisi. Dia ingin tahu lebih banyak tentang hakikat puisi. Dia mulai bisa merasakan mana puisi bagus, dan mana puisi buruk, dan bisa menunujukkan keunggulan dan kelemahan puisi itu. Dia menulis puisi dan mulai peduli apa pendapat orang tentang puisinya. Dia menikmati penulisan puisi itu. Dia butuh menulis puisi. Puisi ibarat orang yang dia taksir dan ingin dia pacari. Dia belum menyatakan cintanya, tapi dia ingin tahu banyak dan seperti terseret untuk lebih dekat, lebih banyak kenal.

4. Tahap Mahir Puisi. Pada tahap ini, orang sudah percaya diri menunjukkan puisinya pada orang lain. Puisinya tersiar di beberapa terbitan. Puisinya tergabung pada beberapa antologi. Dia telah menerbitkan puisi. Dia suka memperhatikan puisi-puisi orang lain, untuk menambah akemahirannya berpuisi. Dia suka meresitalkan puisinya atau puisi orang lain. Dia mulai tahu bagaimana puisi yang baik dan terus menerus ingin memperbaiki puisinya. Secara teknis dia tak bermasalah lagi dengan puisi. Dia telah membuka diri bahwa dia telah menjalin hubungan khusus dengan puisi. Dia telah memacari puisi.

5. Tahap Cinta Puisi. Dia telah menemukan dirinya dalam puisi. Dia mencintai puisi seperti mencintai dirinya. Dia menghargai dirinya dengan lebih baik, sebaik dia menghargai puisinya dan puisi lain yang ditulis orang lain. Dia menulis puisi untuk meyakinkan bahwa dirinya berharga untuk terus ada. Dia ingin orang lain membaca puisinya seperti orang membaca dirinya. Dia bisa membuat orang menghargai puisinya seperti menghargai dirinya. Dia membaca puisi orang lain dan dengan nyaman juga seperti bertemu bagian-bagian dari dirinya ada dalam puisi itu. Dia seperti telah menikahi puisi. Dia berumah tangga dan membangun kehidupan yang berbahagia dengan puisi.

6. Tahap Arif Puisi. Ini tahap tertinggi. Orang yang sudah mencapai kearifan berpuisi. Dia tak ada beban lagi harus menulis puisi atau tidak, tapi dia terus saja menulis puisi sebagai laku hidup, seperti bernapas. Puisi itu penting buatnya tapi dia melakukannya tanpa beban apa-apa. Dia tak ingin mencapai apa-apa lagi lewat puisi karena dia telah mencapai Puisi. Dia seperti telah memahami hakikat yang Mahapuisi. Menyebut namanya, orang langsung mengingat puisi-puisinya. Dia sendiri telah menjelma menjadi semacam puisi juga. Menyebut puisi, orang bahkan dengan mudah jadi teringat pada dia juga.





Friday, September 14, 2007

Ketika Puisi menjadi Cermin

catatan setelah membaca beberapa puisi
Oleh Dedy T Riyadi

hitamkah pagi tuan?
saat bayanganmu memanjang,
mengikuti dengusmu
di tulang mana kau lencangkan bakti?
tak nampakpun derapnya,apalagi derunya



: mungkin cermin yang kau butuhkan ,Tuan

(Setakar Hujat Untuk Lelaki Kecut Berpupur – Doel MH)

Membaca sajak dari Doel MH ini. saya membayangkan diri sebagai cermin yang secara eksplisit dikatakan oleh penyairnya pada baris terakhir puisi itu. Saya juga berusaha mewujudkan pemandangan yang ada. Pagi hitam, tatapan mata yang kosong, dan seterusnya. Dan jika mengacu kepada beberapa pertanyaan/pernyataan yang ada di bait-bait selanjutnya seakan-akan meng-gambarkan bahwa yang orang yang dimaksud dalam puisi ini telah hidup tak sesuai dengan harap-an si aku liris.

Puisi adalah betul merupakan renungan pribadi si penyair terhadap apa saja. Maka dari itu isinya pun bisa bermacam-macam dari hal-hal yang pribadi sampai persoalan negeri. Lantas kemudian ada yang mengkotak-kotakkannya menjadi puisi cinta, puisi religi, atau puisi protes sosial, dan bahkan puisi yang dihubung-hubungkan dengan ideologi dari si penyairnya itu. Jika pada hakikatnya puisi adalah hasil permenungan pribadi, tak ayal puisi telah menjadi cermin dari kepribadian si penyair. Misalnya ketika membaca sajak berikut ;

kita hanyalah rumpun ilalang
pada akar kita menumpang hidup
(Kepada Kering – Pakcik Achmad)

dengan prinsip puisi sebagai cermin kita bisa menduga bahwa si penyair adalah orang yang jeli dalam melihat sesuatu. Tak mungkin akar ilalang muncul begitu saja tanpa pengamatan dan permenungan yang dalam. Ilalang adalah rumput yang sukar untuk diberantas pertumbuhannya karena kemampuan akarnya yang tahan pada cuaca dan kondisi ekstrem. Apalagi ternyata setelah saya berbincang dengan penyairnya, dia mengatakan ilalang itu bisa tumbuh dengan hara yang sangat minim. Dan sajak-sajak Pakcik Achmad yang lainnya juga mencerminkan hal yang sama; kejelian menangkap esensi dari sesuatu. Seperti sajak ini;

kusibak enam,
: satu kulambung –
lima kuserak

kuhimpun enam,
: satu kutangkap –
limaku terserak

(Serimbang – Pakcik Achmad)

Serimbang adalah permainan tradisional masa kecil. Mirip dengan permainan bola bekel hanya tak menggunakan bola. Permainan yang mengandalkan keahlian tangan untuk menangkap dan menyebarkan bebijian / bebatuan. Tinggal tergantung pembaca untuk memaknai apakah yang dimaksud dengan biji/batu yang diserak-himpunkan oleh si aku liris dalam puisi ini. Nasibkah? Pe-kerjaankah? Silakan menerka.

Pun kita merasa diajak mencari sebuah kekosongan yang dialami penyair seperti Gita dengan mem-baca suasana pada salah satu puisinya ;

Ladang gersang

Dan kau, ilalang
Tiba tiba hilang

Malam terang

Dan aku, bintang
Dengan mata nyalang

: Mencari

(Yang Hilang – Gita Pratama)

Si aku-liris jelas sekali telah berusaha maksimal mencari keberadaan si dia-liris yang diibaratkan dengan rumpun ilalang di ladang gersang yang tiba-tiba menghilang. Dan dengan setianya si aku-liris menunggu walau sudah malam. Dan usahanya terasa maksimal ketika si aku-liris menjadi sebuah bintang yang terang hanya untuk mencari dia-liris yang hilang.

Akan tetapi mengibaratkan sebagai cermin untuk menduga-duga makna sebuah puisi terasa tidak maksimal ketika menjumpai puisi-puisi seperti ini ;

Rumah berkulit megah dan berkelamin
gerigi baja itu - di setiap uratnya berdaging kaca -
terukir mantra-mantra pengikat tujuh wujud kematian yang
ditakuti kehidupan. Adalah kebebasan akan terjadi
dari sana (diatas perbudakan sisa jiwa
terkurung). Empat nafas terjebak di kemegahan itu, meronta
dalam pelarian dibalik jeruji kematian. Menyadar
diri dirajam purnarupa paruh ajal, empat
nafas melacur hati demi penghancuran malapetaka dunianya.

(Empat Nafas – Leonowens SP)

Saya tidak membayangkan melihat sebuah rumah dengan bentuk yang aneh (yang punya kulit juga punya kelamin bergerigi baja, bahkan berurat daging kaca) yang dijagai oleh mantra-mantra suci untuk mengikat kematian, di mana ada empat orang (empat nafas) yang terjebak dan ingin lari. Dalam puisi-puisi seperti ini, saya hanya mencoba merasakan bahwa ada semacam keputusasaan yang dirasakan oleh si aku-liris yang diimajikan sebagai empat nafas sehingga si aku-liris harus melakukan hal yang bertentangan dengan jiwanya.

Oleh karena puisi dapat difungsikan sebagai cermin bagi pembaca untuk meneroka sampai pada pribadi penyair, apakah sebaiknya penyair mulai tekun untuk membuat baik dirinya maupun pesan dalam puisinya tidak transparan? Atau jika ada yang berpendapat tak perlu berindah-indah menyampaikan pesan seperti puisi-puisi yang beraliran realis, maka kita sebagai pembaca tak perlu repot-repot menggunakan cermin, tinggal kita lihat penyairnya; “Sudahkah dia rapi seperti puisinya?”

Jakarta, 14 September 2007.
http://toko-sepatu.blogspot.com/

Thursday, September 13, 2007

Kegagapan Calon Penyair oleh Hasan Aspahani

[Ruang Renung # 229] Kegagapan Calon Penyair
Ada surat pembaca di majalah Gong No. 93 Agustus 2007. Surat itu saya kira cukup mengharukan. Si pengirim Dadang Ari Murtono dari Komunitas Sastra Pondok Kopi, Mojokerto.

Surat pembaca itu begini, kita kutip seutuhnya:
Sebagai seorang penyair muda atau lebih tepatnya calon penyair, saya sering mendengar tentang Makalah Gong dari penyair-penyair yang lebih senior dan saat ini ketika ruang sastra di koran-koran minggu dan majalah-majalah sastra dipenuhi puisi "gelap" atau beraliran "goenawan" dan tidak memberikan sedikitpun tempat bagi puisi protes atau genre puisi selain puisi lirik/suasana, maka harapan saya sebagai pembaca, Majalah Gong bisa memberikan kesempatan kepada puisi-puisi yang "terpinggirkan" tersebut sehingga bisa menjadi penyimbang bagi lembar sastra media-media besar lainnya. Demikian semoga Majalah Gong semakin suskses. Terima kasih.

1. Penyair Agus R Sarjono pernah bilang, kalau ingin tahu kualitas penyair, maka lihatlah tulisannya selain puisi. Eseinya atau prosanya. Kalau eseinya bagus, ada harapan ia menulis puisi yang bagus. Penyair yang bagus, katanya, adalah penulis esei yang bagus. Bila surat pendek ini kita anggap sebagai esei pendek, maka sungguh ini bukan sebuah esei yang baik. Surat ini hanya terdiri dari tiga kalimat. Satu kalimat panjang sekali, terdiri atas 77 kata. Kalimat lain hanya terdiri atas enam dan dua kata. Repot sekali mengikuti apa maunya kalimat panjang yang pertama itu. Mestinya kalimat itu bisa dipenggal menjadi lima atau enam kalimat yang lebih nyaman dibaca dan ditangkap isinya.

2. Dengan mengesampingkan kekalutan kalimat panjang itu, maka yang mengharukan adalah ternyata di Mojokerto, dan di mana-mana saya rasa, di Indonesia ini, banyaklah anak muda seperti Dadang Ari Murtono (ia lahir tahun 1984). Anak muda yang menggerakkan komunitas sastra dan dengan sadar - mungkin juga bangga - menyebut diri penyair muda atau calon penyair. Ada sejumlah risiko dalam penyebutan itu. Saya kira Dadang asyik saja dengan sebutan itu, tanpa terlalu memperhitungkan apa risikonya.

3. Dadang dan mungkin banyak penyair muda lainnya, gampang dihinggapi wasangka. Wasangka Dadang di surat ini adalah 'ruang sastra di koran-koran minggu dipenuhi oleh sajak "gelap". Lebih menarik lagi ia mengataukan "Sajak gelap" itu sebagai "sajak beralirah goenawan". Yang dia maksud mungkin sajak-sajak Goenawan Mohamad. Benarkah?

4. Karena tuduhan di butir ketiga tadi, maka Dadang lantas menyimpulkan bahwa tidak ada tempat lagi untuk "sajak protes" atau sajak lain selain "sajak lirik/sajak suasana".

5. Akibatnya dari butir ketiga dan keempat tadi, maka ada ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan apa? Saya tak tahu pasti, tapi Dadang berharap Majalah Gong bisa menjadi penyimbang itu. Mungkin ketidakseimbangan yang ia maksud adalah keragaman gaya-gaya sajak.

6. Di majalah yang sama Majalah Gong memuat tiga sajak Dadang. Sajak-sajaknya tertulis dipersembahkan untuk alrmarhum anaknya. Dan sajak-sajaknya bukanlah sajak-sajak protes! Kalau memakai tuduhan-tuduhannya di suratnya di atas, maka sajak-sajaknya tadi menurut saya adalah "sajak lirik" atau "sajak suasana" atau "sajak aliran goenawan" dan dengan demikian juga adalah "sajak gelap".

Ah anak muda, ah penyair muda, ah calon penyair, jangan gagaplah. Jadilah penulis esei yang baik - mulailah dengan menulis surat pembaca yang baik - dan mulailah berhitung risiko setelah Anda berani menyebut diri sebagai calon penyair atau penyair muda.




Hak cipta pada hasan aspahani

Sunday, April 22, 2007

Enam Diktum Goenawan

Pasal 1. Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi.
Karena itu, puisi yang tidak palsu dengan sendirinya
dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada
orang lain, pembacanya.

Pasal 2. Prestasi kepenyairan yang matang
mencerminkan suatu gaya, setiap gaya mencerminkan
suatu kepribadian, setiap kepribadian tumbuh dan hanya
bisa benar-benar demikian bila ia secara wajar berada
dalam komunikasi.

Pasal 3. Sajak yang mencekoki pembaca, atau menyuruh
pembaca menelan saja pesan yang hendak disampaikan
atau yang dititipkan lewat penyair adalah sajak yang
tidak pantas dihargai.

Pasal 4. Penyair dan pembacanya berada dalam sebuah
ruang kebersamaan yang meminta banyak hal serba
terang, sebab dengan demikian terjamin kejujuran, dan
penyair tidak sekedar menyembunyikan maksud sajaknya
bagi dirinya sendiri.

Pasal 5. Akrobatik kata-kata untuk dengan sengaja
membikin gelap suatu maksud sajak menunjukkan tidak
adanya kejujuran, yang pada akhirnya tidak lagi
dipercaya pembacanya dan kemudian ia pun tidak lagi
percaya pada dirinya sendiri.

Pasal 6. Penyair harus meletakkan sajaknya di antara
"kegelapan-supaya-tidak-dimengerti" dan
"tidak-menjejalkan-segala-galanya-kepada-pembaca",
tanpa mengaburkan batas antara kedua hal itu.

* Disarikan dari "Pada Mulanya adalah Komunikasi"
tulisan Goenawan Mohamad dalam buku "Kekusastraan dan
Kekuasaan", PT Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.

Monday, April 16, 2007

[Ruang Renung # 190] Mengisi Hidup, Menjaring Inspirasi

DARI mana datangnya inspirasi untuk sebuah puisi? Bagaimana mendapatkan inspirasi? Inspirasi itu harus ditunggu atau diburu? Kenapa seringkali kalau diburu-buru inspirasi malah mati? Kenapa banyak peristiwa hebat dan unik tidak menggerakkan seseorang menulis puisi? Kenapa ketika seseorang sudah bersiap dengan komputer aktif dan tangan siaga di papan ketik, eh puisi tak juga tercipta karena inspirasi tak datang-datang juga? Inspirasi puisi itu berasal dari rasa hati atau dari nalar pikiran?

Apakah hidup yang rutin harus dilabrak agar inspirasi mengalir? Apakah penyair harus menjadi bengal agar dari kebengalan lakunya itu ia mendapatkan inspirasi? Atau penyair harus merenung sendiri, menyepi menjauh dari kehidupan? Apakah penyair harus menghindari keteraturan hidup? Apakah kemoratmaritan hidup adalah lahar subur bagi inspirasi?

Saya tidak bisa tidak kecuali setuju saja dengan apa yang dipaparkan oleh W.S. Rendra. Soalnya, kata beliau, bukan bagaimana mencari inspirasi itu, tapi bagaimana pengarang harus membuat hidupnya berisi, sehingga ia akan selalu kaya akan rangsangan-rangsangan untuk membuat karangan-karangan. "Ia harus selalu berhadapan dengan masalah," kata Rendra.

Ya, saya sepenuhnya setuju pada Tuan Rendra. Buatlah hidup kita berisi, dan kita harus senantitasa berhadapan dengan masalah. Itulah kuncinya. Kita tidak mencari masalah, sebab hidup toh selalu bermasalah. Menghadapi masalah, berarti menyadari bahwa masalah itu ada dalam hidup kita. Kita tidak perlu menghindarinya, kita tidak boleh mengabaikannya, kita jangan pura-pura melupakannya. Tapi kita juga tidak boleh berlarut-larut dalam sebuah masalah.

Ya, hadapilah masalah. Dengan gagah tapi tidak dengan pongah. Dengan begitu, hidup kita akan berisi. Terus-menerus terbaharui. Dari kehidupan yang penuh dan membaru itu, kita menjadi kaya dan rangsangan untuk membuat karangan: puisi-puisi dan kisah-kisah, terus mengada. Terus mengada, tapi tidak mengada-ada.

hasan aspahani